Tebus Weteng: Ritual Syukur Kehamilan & Harapan Masa Depan

bagikan

Upacara Tebus Weteng adalah tradisi yang dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas kehidupan jabang bayi dalam kandungan.

Tebus Weteng: Ritual Syukur Kehamilan & Harapan Masa Depan

Dibawah ini ALL ABOUT JAWA BARAT akan membahas upacara ini juga menjadi permohonan doa kepada Allah SWT agar jabang bayi diberi keselamatan dan keberkahan. Di daerah Brebes, upacara ini masih dipercayai dan dilaksanakan.

tebak skor hadiah pulsajersey asli timnas gratis  

Asal-Usul dan Makna Tebus Weteng

Tebus Weteng berasal dari kata “nebus” yang berarti meminta, dan “weteng” yang berarti perut. Secara harfiah, tebus weteng berarti meminta agar jabang bayi yang ada di dalam perut ibu diberi keselamatan dan keberkahan. Upacara ini juga dikenal dengan sebutan mitoni atau kebuk.

Istilah “mitoni” sendiri berasal dari kata “pitu” yang berarti tujuh, merujuk pada usia kehamilan tujuh bulan saat upacara ini dilaksanakan. Upacara ini sarat akan simbolisme dan harapan baik bagi ibu dan calon bayi.

Lebih dari sekadar ritual, Tebus Weteng adalah wujud rasa syukur, permohonan perlindungan, dan harapan akan masa depan yang cerah bagi sang buah hati. Indonesia sebagai masyarakat yang majemuk dengan beragam suku, ras, budaya, dan kepercayaan, mempengaruhi tradisi seperti Tebus Weteng yang syarat akan mitos dan upacara.

Tujuan & Waktu Pelaksanaan Upacara

Tujuan utama upacara Tebus Weteng adalah memohon doa kepada Allah SWT untuk keselamatan dan keberkahan jabang bayi yang ada dalam kandungan. Upacara ini dilaksanakan saat usia kehamilan mencapai 7 bulan, karena diyakini pada usia ini nasib jabang bayi telah ditentukan oleh Allah SWT.

Dengan memanjatkan doa, diharapkan jabang bayi akan mendapatkan nasib baik dan menjadi manusia yang berguna bagi keluarga, masyarakat, agama, dan bangsa. Pemilihan waktu ini juga didasarkan pada perhitungan kalender Jawa yang dianggap memiliki pengaruh terhadap keberuntungan dan keselamatan.

Selain itu, usia kehamilan tujuh bulan juga menandai tahap penting dalam perkembangan janin, sehingga upacara ini menjadi momentum untuk memohon perlindungan dan kesehatan bagi ibu dan calon bayi.

Baca Juga:

Sajian & Ubo Rampe Dalam Upacara

Sajian & Ubo Rampe Dalam Upacara

Dalam upacara Tebus Weteng, terdapat berbagai sajian makanan dan ubo rampe yang memiliki makna simbolis. Salah satu sajian khas adalah ambeng, yaitu nasi putih atau nasi kuning yang ditata bersama lauk pauk seperti telur asin khas Brebes, ikan bandeng acar atau daging, ikan asin, tahu, tempe, dan sayur-sayuran.

Kluban juga menjadi sajian yang tidak kalah penting, terbuat dari sayuran seperti kangkung, daun turi, tronggong, semanggen, dan pare yang dimasak dan disajikan dengan parutan kelapa pedas.

Selain itu, terdapat rangkaian daun pisang berbentuk lingkaran yang dihiasi bunga melati dengan gambar wayang Janaka. Srikandi di tengahnya, dengan tujuan agar doa yang dipanjatkan sampai kepada jabang bayi agar berwajah cantik atau tampan.

Prosesi Membuat Rujak yang Unik

Salah satu prosesi unik dalam upacara Tebus Weteng adalah pembuatan rujak. Rujak ini terbuat dari berbagai macam buah seperti mangga muda, delima, jambu air, dan nanas yang dipotong kecil-kecil dan dicampur.

Kedua orang tua jabang bayi harus membeli rujak ini dengan harga yang semahal-mahalnya, dengan tujuan agar jabang bayi. Kelak bisa laku mahal, dalam artian memiliki nilai dan dihargai oleh orang lain. Konon, jika rujak terasa pedas, maka jabang bayi akan lahir laki-laki, dan jika rasanya biasa saja, maka akan lahir perempuan.

Ramuan rujak bukan hanya sekadar campuran buah, tetapi juga simbol dari harapan dan doa orang tua untuk masa depan anak mereka. Setelah dimandikan, ibu jabang bayi melakukan prosesi membuat rujak.

Kesimpulan

Upacara Tebus Weteng mengandung nilai-nilai luhur yang patut dilestarikan. Selain sebagai ungkapan syukur dan permohonan doa, upacara ini juga mempererat tali silaturahmi antar warga. Sajian kluban dengan berbagai sayuran melambangkan kesederhanaan, persatuan, dan gotong royong yang masih kental dalam masyarakat desa.

Upacara ini juga menjadi wujud penghormatan terhadap tradisi dan kepercayaan leluhur. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk menjaga dan melestarikan tradisi Tebus Weteng agar tidak hilang ditelan zaman. Simak dan ikuti terus informasi terlengkap tentang ALL ABOUT JAWA BARAT yang akan kami berikan setiap harinya.


Sumber Informasi Gambar:

  1. Gambar Pertama dari jogja.babad.id
  2. Gambar Kedua dari kompasiana.com

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *